
Mataram, Talikanews.com – Beberapa waktu lalu, Gubernur NTB, Dr Zulkieflimansyah menegaskan pemerintah daerah terbuka bagi para investor yang ingin berinvestasi bahkan akan membantu dan memfasilitasi para investor yang ingin berinvestasi seperti di Gili Tangkong Sekotong Lombok Barat.
Faktanya, dari PT Istana Cempaka dan PT. Ananda Tangkong Paradise membongkar adanya dugaan permainan oknum panitia tender dengan oknum yang mengatasnamakan dekat dengan Gubernur untuk memenangkan PT. Heritage Resort and Spas (Bintang).
“Oknum panitia tender inisial PB ini telpon Mr X yang diduga orang dekat Gubernur untuk bertemu di Menteng Jakarta, bicarakan bagaimana PT. Heritage Resort and Spas (Bintang) menang,” ungkap kuasa dan konsultan hukum PT Istana Cempaka, Muliyadin, Jum’at (6/9).
Muliyadin menjelaskan, permainan itu dibongkar setelah ada pengumuman nilai scorsing tender pengelolaan Gili Tangkong. Padahal, pada proses presentasi profil perusahaan dan rencana pengembangan di BPKAD NTB mengenai rencana investasi, ada beberapa aspek harus dipaparkan sesuai permintaan Gubernur seperti Aspek lingkungan, aspek libatkan masyarakat dirinya sudah lakukan, aspek keuangan sudah layak dan lain sebagainya.
Terhadap perusahaan yang dimenangkan, saat presentasi, laptop perusahaan itu dibuka oleh salah seorang panitia. Apa yang dibuka saat itu, dirinya tidak mengetahui dan mengantongi bukti foto.
Anehnya, muncul hasil scorsing, saat itu, tidak dilampirkan dalam dokumen pengumuman berapa nilai masing-masing perusahaan. Mestinya hasil scorsing itu dilampirkan supaya para investor mengetahui nilainya.
“Nah, ucuk-ucuk keluar pengumuman bahwa nilai tertinggi PT. Heritage Resort and Spas (Bintang).
Intinya, yang bikin kaget, menangnya PT. Heritage Resort and Spas karena ada oknum panitia inisial PB bangun komunikasi dengan oknum Mr X yang mengaku dekat dengan gubernur, dalam pembicaraan, bagaimana kawal supaya PT. Heritage Resort and Spas (Bintang) menang.
“Kejadian itu pada hari Jumat tanggal 23 Agustus 2019, oknum inisial PB janjian bertemu dengan Mr X yang diduga orang dekat Gubernur di Menteng Jakarta, pesan dalam pembicaraan itu kita sama-sama kawal PT Heritage Menag,” bebernya.
Yang jelas, pihaknya ingin tender pengelolaan Gili Tangkong itu di batalkan dan jika panitia terbuka, dua perusahaan siap berkolaborasi berinvestasi dan nilai investasi awal PT Istana Cempaka, sebesar Rp 75 miliar.
“Saya sudah ajukan surat sanggahan, berharap panitia harus objektif, tidak ada bekingan. Karena, yang bikin janggal, saat penyampaian dokumen terakhir, sepakat diundur 7 hari, faktanya diundur lagi tiba-tiba ada hasil scorsing besar dugaan permainan,” cetusnya sembari menambahkan nilai scorsing masing-masing perusahaan PT. Ananda Tangkong Paradise nilai dokumen 42,36, Nokia RIP 21,70, total nilai 64,06.
Kemudian PT Istana Cempaka nilai dokumen 58,17, nilai RIP 25,43 dan total nilai 83,60. Terakhir PT. Heritage Resort and Spas nilai dokumen 64,00, nilai RIP 27,27 dan total nilai 91,27.
Lain halnya dengan juru bicara PT. Ananda Tangkong Paradise, Heni Indriyati. Dirinya kecewa atas sikap panitia juga pihak BPKAD yang tidak transparan terhadap proses tender pengelolaan Gili Tangkong itu.
Padahal dari awal, sekitar 3 tahun lalu, saat kepimpinan TGH M Zainul Majdi (TGB), perusahaannya sudah punya niat ingin sewa lahan Gili Tangkong, ketika bersaing dengan perusahaan Tomy Winata.
Pasca kepemimpinan TGB, perusahaannya itu kembali mengajukan permohonan ke BPKAD zaman pak Supran sebagai kepala badan. Namun saat itu, diminta menunggu tanpa ada kejelasan, akhirnya melangkah ke Gubernur baru yakni Dr Zul.
Dari Dr Zul, mengeluarkan memo penunjukan langsung untuk PT. Ananda Tangkong Paradise, ditanda tangani pak Zul pada Februari 2019. Malah, pak Zul bilang, tidak akan minta apapun kepada investor malah permudah investor.
Kendalanya, pak Supran pensiun.
“Yang bikin aneh, muncul beauty contes, saat itu saya kecewa, karena telah menempuh proses panjang. Lebih kecewa lagi atas penilaian tim penilai tender dalam hal sistim scorsing hanya mengedepankan kedekatan ke salah satu perusahaan yang di menangkan,” ujar dia.
Heni membeberkan, apakah perusahaan yang dimenangkan panitia merupakan perusahaan yang sudah eksis di Indonesia, siapa direktur dan dimana kantor perwakilan, itu semua belum jelas.
“Kecewa pada sistim scorsing perusahaannya ditaruh urutan ke-3. Malah yang akan di menangkan tidak sesuai keinginan konsep, kata lain konsep pembangunan gunakan beton, bukan mestinya gunakan kayu,” terang dia.
Dirinya mengaku, bentuk keseriusan berinvestasi di Gili Tangkong, sudah titip modal di Bank NTB sebesar Rp 400 juta jaminan keseriusan. Namun, dana itu ditarik lagi karena kecewa atas sikap panitia.
Terkait hal itu, panitia tender di ULP Pemprov NTB, Dr Prayitno Basuki dikonfirmasi menyampaikan, apa yang menjadi pertanyaan rekanan itu akan ada jawaban dari tim.” Mohon sabar tunggu jawaban panitia,” kata dia.
Apakah ada rencana pembantalan tender karena dugaan itu? Pengamat Ekonomi Universitas Mataram itu mengaku belum tahu karena akan dibicarakan bersama tim dan penjabat Sekda NTB.
Yang jelas, dalam proses lelang wajar ada sanggahan dan sangkaan, tim juga sejak awal dalam kondisi terintimidasi dengan telpon dari dua perusahaan yang tidak menang. Jadi mohon dipahami dan dapat dijadikan bahan jawab sanggahan
Bagaimana dengan tudingan oknum panitia inisial PB ada kontak telpon dengan oknum orang dekat Gubernur? Basuki mengakui itu dirinya tapi bukan dia yang menelpon melainkan yang menelpon adalah staf khusus (stafsus) gubernur yang minta ketemu dengan dirinya sehingga mengiyakan karena staf khusus Gubernur.
“Saya jawab silakan karena beliau stafsus. Karena beliau satahu saya, membawa salah satu PT untuk di ajukan sebagai pemenang,” beber dia.
Mengenai dugaan penerimaan? Basuki menegaskan tidak ada yang atur karena nilai sangat terbuka dan bisa di lihat di ruang panitia. Malah, panitia berpihak kepada keuntungan masyarakat dan pemprov.
“Justru kami panitia tetap berpendirian yang terbaik yang menang,” tutupnya. (TN-04)