Disinggung Tak Lanjutkan Ikhtiar TGB, Gubernur NTB Gerah

Mataram, Talikanews.com – Adanya sentilan dari salah seorang kader Partai Demokrat terhadap sikap Gubernur Nusa Tenggara Barat, H. Zulkieflimansyah dan wakilnya Hj. Sitti Rohmi Djalilah yang tak melanjutkan program-program unggulan yang pernah dicetuskan Tuan Guru Bajang (TGB) seperti yang sering disampaikan keduanya saat masa kampanye Pilkada 2018.
“Dulu janjinya lanjutkan ikhtiar TGB, yang dianggap bagus bisa diteruskan,” ungkap HMNS Kasdiono.
Kasdiono mengungkapkan, dalam postur Anggaran Belanja Pembangunan Daerah (APBD) NTB tahun 2020 saja, tak satu pun program yang dulunya dicetuskan dan dinilai berhasil hingga mendapat pengakuan pemerintah pusat pada 10 tahun kepemimpinan TGB, diprogramkan Gubernur NTB Zulkieflimansyah dan Wakilnya Sitti Rohmi Djalilah. Padahal, kata dia, saat masa kampanye keduanya terus mengangkat tigline lanjutkan ikhtiar TGB.
Ia mencontohkan, beberapa program yang tidak dilanjutkan dan tidak menjadi fokus utama di era Zulkieflimansyah dan Sitti Rohmi Djalilah. Antara lain, program Bumi Sejuta Sapi (BSS), program PIJAR (sapi, jagung dan rumput laut), program peningkatan kunjungan wisatawan, pariwisata halal dan beberapa program unggulan lainnya.
Di dalam postur APBD NTB tahun 2020, Pemprov NTB sendiri mengalokasikan anggaran 41 persen atau Rp 912,38 miliar dari anggaran belanja langsung untuk lima program prioritas. Kelima program unggulan yang akan menerima dana Rp 912,38 miliar itu, antara lain program unggulan melawan kemiskinan dari desa yang dialokasikan sebesar Rp 361 miliar.
Selanjutnya, anggaran program unggulan infrastruktur sebesar Rp442,67 miliar. Program unggulan industrialisasi yang dialokasikan sebesar Rp197,76 miliar. Program unggulan revitalisasi Posyandu dan stunting dialokasikan sebesar Rp77,14 miliar dan program unggulan Zero Waste (bebas sampah) yang dialokasikan sebesar Rp31,40 miliar.
Mendengar hal itu, Gubernur NTB, Dr Zulkieflimansyah justru membantah tidak melanjutkan ikhtiar kepemimpinan sebelumnya.
Dia mengaku, kenapa tidak ada Pijar, karena masalah Sapi akan dikembangkan, kemudian jagung akan diberdayakan. Ketika bangun pabrik pakan ternak apakah bukan namanya melanjutkan program sebelumnya.
“Tadinya jagung kita dijual mentah setelah di olah, peternakan maju, anak-anak kita dapat pekerjaan. Itu lah harus dimaknai lanjutkan program sebelumnya bukan Pijar lanjutan,” cetusnya Jumat (30/8).
Begitu halnya dengan sektor Pariwisata. Kemarin di Lotim dan Loteng dirinya meresmikan investasi gren energi, dimana kedepan touris makin bawel pada energi ramah lingkungan, zero waste.”
Jangan maknai sesuatu harus ada pariwisata, apakah membangun dermaga, buka akses komunikasi bukan namanya mendukungnya pariwisata, kan sama,” tutupnya. (TN-04)





