Gubernur NTB Sebut Jabatan Itu Penuh Kesunyian

Mataram, Talikanews.com – Gubernur NTB, Dr Zulkieflimansyah memaparkan kemajuan teknologi saat ini tidak menjadikan jabatan seseorang sebagai pembawa kebahagiaan. Justru semakin tinggi jawabatan seseorang, semakin sedikit sahabat dan saudara sejatinya.
“Jabatan gubernur, jabatan bupati, bahkan jabatan presiden, adalah jabatan yang penuh kesunyian. Jabatan yang dihinggapi rasa sepi yang mencekam,” ungkapnya di hadapan ratusan masyarakat yang hadir saat Peletakan Batu Pertama Pembangunan Lembaga Pendidikan Yayasan Pondok Pesantren “Zainul Hafidz” At-Taufiq, Dusun Sepi, Desa Buwun Mas, Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat beberapa waktu lalu.
Oleh sebab itu, sapaan Dr Zul itu mengingatkan, rasa syukur terhadap segala yang dimiliki saat ini merupakan kunci kebahagiaan. Memiliki banyak harta serta rumah yang besar, belum tentu hidupnya bahagia. Kadang, ada yang berpenghasilan miliar rupiah serta rumah seharga triliunan, tapi selama hidupnya hanya bisa makan obat.
“Mana yang dipilih, punya uang banyak, tapi hanya boleh makan obat, atau uangnya sedikit seperti kita sekarang, tapi bisa makan apa saja,” katanya dengan nada bertanya.
Selain itu, Doktor Zul mengajak masyarakat Sekotong untuk menulis cerita indah tentang daerahnya. Yaitu cerita yang membangkitkan semangat bagi masyarakat untuk menatap masa depan.
“Hari ini saya menjadi saksi, pendiri Ponpes ini ingin menulis cerita masa depan Sekotong dengan cerita yang menyenangkan,” cetusnya sembari mengatakan bahwa keberanian meletakkan batu pertama adalah ikhtiar maksimal mengatakan pada dunia, masa depan Sekotong adalah cikal bakal yang Gemilang bagi anak cucu di masa yang akan datang.
Bagi mantan anggota DPR RI ini bahwa, kehadiran pondok pesantren membawa perubahan peradaban manusia. Sebab pesantren itu senantiasa menghadirkan banyak hal untuk menghadapi tantangan zaman ke depan. Apalagi di tengah kemajuan teknologi informasi yang semakin pesat seperti saat ini.
“Karena di zaman ini, kemajuan teknologi informasi dan lain sebagainya, masyarakat itu kadang duduk berdampingan, duduk bersama, tapi jarang berkomunikasi langsung,” tutupnya.(TN-04)





