Opini

Kisah Rofatul Atfah Guru Honorer: Mimpi Beasiswa Pascasarjana, Menguji Kompetensi

By: Rusdianto Samawa
====================

Guru sering dikatakan sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Di Indonesia, guru merupakan pendidik profesional yang mempunyai tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Guru harus memiliki kualifikasi akademik minimum sarjana (S-1) atau diploma empat (D-IV) maupun S2 Pascasarjana, menguasai kompetensi (pedagogik, profesional, sosial dan kepribadian), memiliki sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

Tahun 2018, ada sekitar 2.949.110 guru mengikuti Uji Kompetensi, mulai dari guru bersertifikat pendidik dan belum bersertifikat, PNS maupun guru honorer.
Yang kita bahas, yakni kondisi guru honorer Indonesia karena sangat memperihatinkan. Sudah berlangsung puluhan tahun belum mendapatkan kesejahteraan, keinginan meraih tingkat pendidikan juga sulit dan belum maksimal menata masa depan.

Menurut (2013) Jejen Musfah, bahwa Guru Honorer hampir tidak memiliki waktu untuk belajar atau membaca karena: 1) guru mengajar lebih dari satu mata pelajaran, 2) guru mengajar lebih dari satu kelas, 3) guru mengajar lebih dari satu sekolah. Semua ini dilakukan guru karena sekolah kekurangan guru, atau untuk memenuhi kewajiban mengajar 24 jam per minggu bagi yang sudah tersertifikasi.

Sebagaimana kisah Rofatul Atfah, seorang guru biasa yang ingin melompat jauh dan keluar dari zona Guru Honorer. Sebenarnya Rofatul sudah lama ingin mengubah nasibnya daripada sekedar guru honorer. Baginya, tidak baik terlalu berlama-lama berada di “Zona Nyaman” sebagai guru honorer di sekolah negeri. Sebuah “Zona Nyaman” dengan kerelaan mengabdi bertahun-tahun tanpa harap gaji, selalu berjibaku sebagai tenaga honorer demi hanya untuk mendapat sebuah mukjizat sewaktu-waktu bisa diangkat menjadi PNS. Itulah feeling dan instingnya. Bagi Rofatul menjadi PNS tumpuan harapan hidupnya sehingga lebih mudah dalam mengatur kehidupan sendiri bersama keluarganya.

Rofatul sudah tidak tahan menjadi Guru Honorer. Dalam hati dan pikirannya berontak bahwa sudah seharusnya berusaha melompat jauh, keluar dari zona Guru Honorer itu, dengan kembali kepada mimpi besarnya bisa kuliah Pascasarjana Luar Negeri atau Dalam Negeri dengan Beasiswa murni.

Baginya, sebuah mimpi dan bangga akan kebesaran komitmen, langkah dan cita-citanya untuk keluar dari zona Guru Honorer. Karena mendapat beasiswa sudah tentu memiliki kemampuan kompetensi dan mentalitas yang kuat.
Pikiran dan jiwanya, ingin ilmu yang sepadan dalam memberikan pendidikan yang baik sehingga nuraninya menuntut perlu meraih gelar lebih tinggi.

Pendapat Rofatul, bahwa perlu tenaga honorer kuliah hingga pascasarjana. Semata – mata bagi Rofatul atas pandangan dan keputusan untuk kuliah pascasarjana tidak ada lagi yang melebihi nilai sebuah ilmu dari kuliah pascasarjana meskipun itu tidak berbentuk sertifikasi. Karena sertifikasi hanyalah sebuah prosedural, sementara ilmu mengangkat seseorang beberapa derajat.

Itu pendapat Rofatul yang membawanya untuk ikut ambil bagian dalam masa pendidikan pascasarjananya. Karena Rofatul sendiri sudah sejak lama ingin kuliah S2 dan kalau perlu sampai S3 ke luar negeri. Ketika Rofatul masih kuliah tingkat sarjana dulu, selalu berburu informasi tentang beasiswa kuliah pascasarjana ke berbagai kedutaan luar negeri yang ada di Jakarta.

Namun karena terbentur keterbatasan peluang dan dahulukan berumah tangga daripada ambisi pribadi, maka kuliah ke luar negeri hanya tinggal sebatas angan. Namun itu tidak berapa lama. Bagai gejolak magma yang senantiasa menggelegak hendak memuntahkan energi yang terpendam, keinginan kuliah pascasarjana pun diam-diam menyeruak keluar.

Rofatul berpikir kembali untuk melihat peluang kuliah ke luar negeri. Ketika membaca ada iklan kesempatan meraih beasiswa dari USAID diakhir 2013 keinginan Rofatul membuncah untuk meraih impian kembali berkobar menyelsaikan impiannya. Namun, lagi-lagi Rofatul dihadang masalah ketentuan dan prosedure, bahwa Rofatul harus mendapat izin atasan, yakni Kepala sekolah hingga Gubernur bahkan Mendikbud.

Masalah besar itulah, yang akhirnya membuat Rofatul terbentur tembok besar birokrasi. Jika hanya persoalan TOEFL ataupun IELTS, mungkin masih bisa dikejar, akan tetapi segala macam izin atasan hingga ke beberapa tingkat diatas membuatnya harus menutup kembali harapan.

Namun, mimpi Rofatul untuk keluar dari zona guru honorer masih tetap berkobar. Alhamdulillah berhasil kuliah dengan fasilitas beasiswa yang pendapatan, tunjangan hidup dan kesejahteraan melebihi daripada jadi Guru Honorer. Sementara batas usia Guru Honorer maksimal 35 tahun untuk daftar CPNS tahun. Sehingga bagi Rofatul, sangat tidak berpihak, pemerintah seharusnya mengapresiasi pengabdian Guru Honorer dan memberi kesempatan untuk kuliah dengan beasiswa keluar negeri atau dalam negeri.

Yang paling penting itu, pemerintah harus berikan beasiswa bagi Guru Honorer yang rata-rata sudah mengajar dengan upah sangat murah selama puluhan tahun.
Pemberian beasiswa dan permudah izin, maka pemerintah telah menghargai pengabdian guru yang selama bertahun-tahun menanggung nasib tak menentu itu.

Pasalnya, beasiswa setiap guru honorer merupakan terobosan dalam menuntas pengangguran dan jalan keluar sebagai upaya peningkatan Sumber Daya Manusia dan keilmuannya. Berilah beasiswa bagi Guru Honorer.

Tags

Related Articles

Back to top button