Dispora dan KONI NTB Bingung Zohri Mendunia

Mataram, Talikanews.com – Prestasi Lalu Mohammad Zohri masih menjadi perbincangan hangat. Tak terkecuali Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) dan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) NTB justru bingung.

Kebingungan mereka lantaran pemberitaan yang memojokkan terkait kurang pedulinya Dispora dan KONI terhadap Zohri.

Kepala Dispora NTB, Hj Husnindiyati Nurdin menyampaikan malah saat ini sedang merancang buku dari Pusat Pendidikan Latihan Pelajar (PPLP) hingga Pelatihan Nasional (Pelatnas) menuju dunia berkaitan dengan prestasi Zohri .

Berkaitan dengan perhatian, dirinya menegaskan, selama ini semua atletik difasilitasi mulai dari bebas SPP selama sekolah, diberikan baju lima stel, disiapkan sepatu keseharian dan sejumlah fasilitas hingga biaya makan ditanggung sebesar Rp 90 ribu/hari. Untuk pesangon mereka diberikan setiap bulan.

“Siapa bilang Zohri tidak gunakan kaos kaki, terus sepatu seadanya. Malah, saya anggap seperti anak sendiri,” ungkapnya, Senin (16/7).

Dia mengatakan, selain fasilitas, kesehatan para atlet ditanggung BPJS kelas 1 , merupakan inisiatif Gubenur. Sebagai pembimbing, Dispora juga sangat memperhatikan selain makanan juga vitaminnya. Atlit diwajibkan meminum obat cacing. Didalam Asrama PPLP juga dihadirkan guru ngaji yang sengaja dibayar untuk mengajarkan mereka.

“Jadi, jika ada yang bilang atlet tidak diurus, salah benar. Selama di Jakarta saya terus telpon Zohri, untuk mengkonfirmasi kesehatan makanan dan lainnya,” kata dia.

Ia pun menyinggung media yang terlalu menyorot rumah Zohri yang jelek yang seakan Zohri tidak diurus oleh pemerintah. Untuk diketahui, tugas Dispora bukan mengurus rumah Atletik tetapi yang diurus tempat tinggal, sarana prasana latihan dilokasi berlatih.

Terlebih , di PPLP sendiri sebanyak 52 atelt yang sedang dibimbing mereka adalah atletik Voly indoor maupun Voli Pasir, ada juga Takraw, pencak silat dan atletik lari.

Zohri kata dia satu dari 52 atletik dibidang lari yang dibimbing PPLP Dispora.

Husnindiyati menceritakan bahwa Zohri masuk PPLP pada tahun 2016. Orang pertama yang menemukan bakat larinya guru olahraga Kelas 2 SMPN 1 Pemenang, Rosida.

“Aslinya Zohri pemain sepakbola,” ceritanya.

Saat di PPLP NTB, pelatih Zohri bernama, Komang Budagama sampai sekarang kemudian Dipelatnas Ibu Enny dan Bapak Erwin yang melatih intens.

Sejak masuk, Zohri dikirim PB PASI Bob Hasan ke Amerika. Di sana diperbaiki beberapa tekniknya. Sehingga semakin baik. Bahkan Dia mengaku ketemu dengan pelatihnya di Jakarta sebanyak dua kali.

“Dari PPLP NTB menuju dunia,” ujarnya penuh bangga.

Meski baru selesai meraih juara dunia lanjutnya, mereka mengaku ada PR besar yaitu Zohri akan mengikuti Asean Games. Bedanya kemarin Zohri mengkuti IAFF U-20 kategori singgle even, tetapi di Asean Game tidak akan diikuti dari usia 20 malah akan diikuti oleh pelari yang usianya lebih dari 20 tahun.

“Saya takutnya kalau tidak menang, Dibully dimedia kenapa kemarin juara dunia sekerang kalah di Asean Game. Jadi kami fokus antarkan Zohri ke Asean Games itu,” terangnya.

Husnandiyati juga membantah bahwa tidak ada koordinasi dengan KONI provinsi. Yang menjadi catatan soal anggaran pembinaan kata dia sesuai dengan aturan presiden dana pembinaan Atlit tidak lagi diserahkan ke KONI melainkan langsung di Cabor.

Bersama KONI dan PASI, Dispora selalu bergandengan tangan untuk kebutuhan dan kemajian atlit.

Untuk mencetak sosok seperti Zohri Ia menyampaikan kendalanya dimana masing masing cabor belum memilik data atlet yang dilatih. Menurutnya pendataan penting dilakukan agar pemerintah mengetahui mana atlit daerah yang pindah ke provinsi lain.
Kendala berikutnya soal anggaran dimana Dispora minim sekali mendapatkan anggaran besar, padahal kondisi PPLP, kata dia jauh dari harapan berlatih para atlit.

PPLP adalah wadah menghasilakn atlit berprestasi. Sehingga penting disokong dengan anggaran yang besar. Sesui hitungannya, Dispora pada APBD perubahan membutuhkan dana Rp 2 Miliar. Sebesar Rp 1 Miliar untuk kebutuhan penambahan atletik dan Rp 1 miliar lagi untuk sarana prasarana atletik.

“Banyak fasilitas yang perlu diadakan dan juga bangunan PPLP sudah terlihat roboh,” tutur dia.

Dia menambahkan, dari APBD murni 2018. Dispora menerima anggaran hanya 600 juta. sementara dari APBN yaitu Menpora telah menerima 2 Miliar.

“Dari APBN kami terima 2 M untuk makan try out, uang saku, honor pelatih, untuk perlengakapan dan baju dua stel dan yang lain,” terang dia.

Disatu sisi, ketua KONI NTB, Andy Hadiyanto memandang pemikiran keliru bilaman media hanya menyorot rumah Zohri saja.

Seharunya yang perlu lebih sisorot kata Andi bagaimana dan apa saja kendala supaya bisa mencetak Zohri lainnya semisal kondisi PPLP, fasilitas olahraga atau sebagainya.

Olahraga di NTB sebelum 2012 prestasinya di peringkat 27 hingga 29 dibandingkan dengan provinsi lain. Bahkan pada Pekan Olahrga Nasional ( PON) saat itu atlit hanya mendapatkan medali kisaran satu atau dua. Tetapi diatas tahun ini gubernur NTB bersama ketua KONI, HMNS Kasdiono dapat meletakkan atletik dengan berbagai prestasi. bahkan bisa diperingkat belasan.

“Ini semua sebab atensi pemerintah ,adanya proses pembinaan olhhraga menajdi hebat perlu perhatian pemerintah dan pemerintah telah berbuat untuk itu,” ujar Andy penuh semangat.

Jika dilihat dari tugasnya KONI membina atlit berprestasi lanjutnya, kalau pelajar dibina oleh PPLP. Artinya ada pembagian tugas dan tanggungjawab. Sejak Zohri jadi juara ia mengaku tetap memantau. Saat itu Zohri terlihat berpotensi hingga dimasukkan ke Platda.

“Jadi tidak benar kalau tidak ada perhatian dari pemerintah. Apresiasi tetap ada tapi harus adil. ada puluhan atlit di PPLP dan KONI. Kita tidak boleh pilih kasih dalam memberikan reward,” papar Andy. (TN-04)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button